Terjadinya gizi buruk seringkali dianggap hanya terjadi di daerah miskin saja. Banyak orang menganggap bahwa wilayah perkotaan merupakan tempat yang kecil kemungkinannya untuk terjangkit permasalahan gizi.

Berkaitan dengan hal tersebut, WHO menyatakan bahwa terdapat kecenderungan beban ganda malnutrisi di Asia Tenggara. Artinya, di samping masalah gizi buruk yang berkaitan dengan kekurangan gizi, Asia Tenggara juga mengalami masalah gizi buruk akibat kelebihan gizi.

Menurut data terakhir dari Riskesdas, ada enam belas wilayah di Indonesia yang memiliki angka obesitas lebih tinggi dibanding angka nasional, yaitu 27%.

Wilayah tersebut mencakup Jawa Barat, Bali, Papua, DI Yogyakarta, Aceh, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Bangka Belitung, Sumatera Utara, Papua Barat, Kepulauan Riau, Maluku Utara, Kalimantan Timur, DKI Jakarta, Gorontalo, dan Sulawesi Utara.

Selain itu, data Riskesdas juga menyebut sepertiga wanita Indonesia di atas usia 18 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Selain itu, lima dari anak usia 5-12 tahun juga mengalami hal yang sama.

Menurut Ahmad Syafiq, selaku ahli gizi sekaligus Kepala Pusat Kajian Gizi dan Kesehatan Universitas Indonesia, masalah kelebihan gizi itulah yang cenderung terjadi di perkotaan.

“Karena dua hal, konsumsi makanannya kebanyakan dan aktivitas fisiknya terlalu sedikit,” jelasnya kepada CNNIndonesia.com di akhir acara seminar bertajuk ‘Nutrisi Sehat dan Seimbang’ di Universitas Indonesia, baru-baru ini.

Ia menganggap masalah gizi ganda di Indonesia harus dipikirkan solusinya agar dapat diatasi secara bersamaan. Untuk itu, berbagai pihak berupaya memerangi masalah serius tersebut.

“Harus diatasi sejak 1.000 hari pertama kehidupan. Karena itu sangat penting untuk memastikan anak-anak mencapai potensi mereka. Malnutrisi selama periode ini menjadi salah satu penentu utama agar anak-anak tidak stunting, tetapi juga tidak menderita obesitas atau penyakit lainnya saat dewasa,” ujar Milton Stokes, ahli gizi Amerika dari Monsanto saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Lebih lanjut, Syafiq menjelaskan bahwa munculnya masalah kelebihan gizi di perkotaan ini dikarenakan gaya hidup, yang mampu membuat pola makanan dan aktivitas fisik seseorang turut berubah.

Namun, perlu disadari bahwa kelebihan gizi tidak hanya dapat terjadi pada masyarakat kota.

“Yang menarik adalah mereka yang dulunya status gizinya kurang, ternyata cenderung mengidap status gizi lebih di kemudian hari,” kata Syafiq